KUNJUNGAN WALI KOTA KE PASAR BESAR, PEDAGANG TERDAMPAK JUSTRU DIHIRAUKAN: DATANG, LIHAT, LALU PERGI?

Kota Pasuruan – Di tengah polemik penertiban dan relokasi pedagang yang belum sepenuhnya reda, orang nomor satu di Kota Pasuruan H.Adi Wibowo datang ke pasar besar, berjalan melihat kondisi sejumlah titik, termasuk kawasan yang dikenal sebagai “Kandang Macan” yang sempat viral, lalu meninggalkan lokasi.selasa,22-September-2026
Yang menjadi sorotan justru bukan sekadar kedatangan Wali Kota, melainkan siapa yang didengar dan siapa yang tidak sempat didengar.
Pedagang yang terdampak penertiban dan relokasi berharap bisa menyampaikan langsung keluhannya. Namun, berdasarkan pantauan di lokasi, tidak terlihat adanya dialog langsung antara Wali Kota dengan pedagang terdampak.
DATANG KE PASAR, TAPI SUARA PEDAGANG TERDAMPAK DI MANA?
Kunjungan tersebut dilakukan bersama unsur Wakil DPRD Kota Pasuruan,Namun, ketika persoalan pedagang sedang membutuhkan komunikasi langsung, kunjungan itu justru berlangsung singkat.
Pernyataan tersebut tentu menjadi perhatian karena kunjungan berlangsung ketika persoalan pedagang terdampak relokasi masih menjadi keluhan.
Perwakilan pedagang, Ratna, mengaku menyayangkan kunjungan tersebut. Menurut Ratna, pedagang sebenarnya ingin menyampaikan langsung kondisi mereka kepada Wali Kota.
“Kami sebenarnya ingin menyampaikan langsung kepada Pak Wali Kota bagaimana kondisi kami. Jualan tidak laku sampai ada yang busuk. Kami ingin menyampaikan keluh kesah kami, tetapi Pak Wali Kota terlihat tergesa-gesa dan langsung pergi,” ujar Ratna.
Menurut Ratna, pedagang terdampak bukan hanya membutuhkan penataan, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap kondisi ekonomi mereka setelah relokasi.
Yang menjadi sorotan Ratna, ketika Wali Kota berada di kawasan pasar, justru pedagang yang terdampak penertiban tidak mendapatkan kesempatan berbicara secara langsung.
“Ironisnya, yang disapa Wali Kota bukan kami yang terdampak, tetapi pedagang yang lainnya. Padahal kami ada di sini dan ingin menyampaikan kondisi kami,” ungkap Ratna.
Bagi Ratna, persoalan ini sederhana: pedagang ingin didengar.
Sebab, ketika dagangan tidak laku dan sebagian barang dagangan sampai membusuk, yang merasakan dampaknya bukan pemerintah, melainkan pedagang yang setiap hari harus menanggung kerugian.
“Kami bukan tidak mau ditata. Kami hanya ingin didengar dan diberikan solusi,” pungkasnya.
AYI SUHAYA: PEMIMPIN JANGAN HANYA MELIHAT, TAPI HARUS MENDENGAR
Sorotan juga datang dari Wagub LIRA Jawa Timur, Ayi Suhaya, S.H.
Menurut Ayi, turun ke lapangan merupakan langkah yang baik, tetapi kehadiran pemimpin akan lebih bermakna apabila disertai dengan komunikasi langsung kepada masyarakat yang sedang menghadapi persoalan.
“Pemimpin itu harus hadir ketika rakyatnya menghadapi persoalan. Datang ke pasar bukan hanya melihat kondisi, tetapi juga mendengar langsung apa yang dirasakan pedagang,” tegas Ayi Suhaya.
Ayi menilai persoalan Pasar Besar tidak bisa hanya dilihat dari sisi ketertiban, kebersihan atau penataan fisik. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni nasib ekonomi pedagang setelah relokasi.
Berapa omzet mereka sekarang? Bagaimana kondisi tempat berjualan? Apakah pembeli masih datang? Apakah ada pedagang yang mengalami kerugian? Dan yang paling penting, apakah solusi pemerintah benar-benar menjawab persoalan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban langsung dari lapangan, bukan sekadar laporan administratif.
DATANG, LIHAT, LALU PERGI?
Penertiban memang dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah menata kawasan Pasar Besar agar lebih tertib. Namun, penataan tidak semestinya berhenti pada pemindahan atau penertiban pedagang.
Ketika pedagang mengaku omzet menurun, dagangan tidak laku hingga membusuk, dan mereka merasa belum memperoleh ruang untuk menyampaikan keluhan kepada kepala daerah, maka persoalan tersebut layak mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Kini publik menunggu: apakah sidak Wali Kota ke Pasar Besar akan menghasilkan tindak lanjut konkret, atau hanya menjadi agenda kunjungan singkat?
Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang datang melihat.
Masyarakat juga membutuhkan pemimpin yang mau berhenti, mendengar, memahami persoalan, lalu mengambil langkah.
Jangan sampai penataan Pasar Besar hanya menghasilkan kawasan yang terlihat lebih tertib, sementara di baliknya ada pedagang yang merasa semakin sulit mempertahankan kehidupan ekonominya.
Datang. Melihat. Mendengar seharusnya menjadi satu rangkaian. Bukan datang, melihat, kemudian pergi.Ujar Ayik Suhaya S.H
(Hr)
