Kejayan FC Juara, Final Bupati Cup Diwarnai Kericuhan

PASURUAN — Kejayan FC berhasil keluar sebagai juara Pasuruan Super League Bupati Cup 2026 setelah menaklukkan Kraton FC dengan skor tipis 1-0 dalam partai final yang digelar di Lapangan Sepak Bola Plumbon, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Selasa (29/9/2026).
Pertandingan final berlangsung menarik sejak menit awal. Kedua kesebelasan tampil terbuka dengan memperagakan permainan menyerang dan jual beli serangan. Sekitar 1.000 penonton memadati lapangan dan memberikan dukungan kepada tim kebanggaan masing-masing.

Atmosfer pertandingan semakin meriah dengan dukungan suporter kedua kesebelasan, termasuk koreografi atraktif yang ditampilkan kelompok Suporter.
Partai final tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Pasuruan Gus Shobih Asrori, jajaran Forkopimda, OPD, camat serta para kepala desa se-Kecamatan Kraton dan Kejayan, bersama sejumlah undangan lainnya.
Sejak babak pertama dimulai, kedua tim sama-sama berusaha menciptakan peluang. Namun, hingga peluit tanda berakhirnya babak pertama dibunyikan, belum ada gol yang tercipta dan skor masih 0-0.
Memasuki babak kedua, tempo pertandingan semakin meningkat. Kejayan FC akhirnya mampu memecah kebuntuan setelah mencetak gol yang membuat kedudukan berubah menjadi 1-0.
Kraton FC tidak tinggal diam. Tertinggal satu gol, mereka meningkatkan tekanan dan berusaha membongkar pertahanan Kejayan FC demi menyamakan kedudukan.
Namun, hingga peluit panjang dibunyikan, skor 1-0 tetap bertahan untuk keunggulan Kejayan FC. Hasil tersebut sekaligus memastikan Kejayan FC keluar sebagai juara Bupati Cup 2026, sedangkan Kraton FC harus puas sebagai runner-up.
FINAL DIWARNai KERICUHAN
Di balik kemenangan Kejayan FC, pertandingan final tersebut juga menyisakan catatan. Usai pertandingan, terjadi kericuhan atau tawuran antarpihak yang membuat suasana di sekitar pertandingan sempat memanas.
Kejadian tersebut disayangkan karena pertandingan sebelumnya telah menyuguhkan permainan sepak bola yang kompetitif dan menarik, terlebih kompetisi tersebut menjadi panggung bagi para pemain muda U-21.
Wagub LIRA Jawa Timur sekaligus pencinta sepak bola, Ayik Suhaya, S.H., menyayangkan pertandingan final harus ditutup dengan kejadian kericuhan.
Menurut Ayik, terdapat sejumlah keputusan wasit yang menurut pandangannya terkesan berpihak kepada Kejayan FC. Ia menilai aspek kepemimpinan wasit perlu menjadi bahan evaluasi bersama oleh KONI, PSSI Kabupaten Pasuruan maupun pihak penyelenggara.
“Pertandingan ini sebenarnya sangat menarik. Anak-anak U-21 bermain bagus dan menunjukkan semangat kompetisi. Sangat disayangkan akhirnya harus ternoda dengan kejadian tawuran,” ujar Ayik, Selasa (29/9/2026).
Ayik menegaskan bahwa pertandingan sepak bola, khususnya kompetisi usia muda, harus tetap mengedepankan sportivitas dan prinsip fair play. Menurutnya, kualitas penyelenggaraan tidak hanya diukur dari suksesnya sebuah tim meraih trofi, tetapi juga dari bagaimana pertandingan berlangsung secara aman, profesional dan memberikan ruang pembinaan bagi pemain muda.
Ia berharap pelaksanaan Bupati Cup pada masa mendatang dapat semakin diarahkan sebagai wadah pembinaan pemain muda di Kabupaten Pasuruan.
“Jangan sampai ada mafia-mafia bola yang justru merugikan pemain-pemain muda. Mereka punya potensi, mereka bermain menarik dan fair play. Jangan sampai generasi muda kita dirusak oleh kepentingan seperti itu,” tegasnya.
Ayik juga berharap evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sistem penyelenggaraan, pengamanan pertandingan hingga profesionalitas perangkat pertandingan. Dengan demikian, kompetisi sepak bola usia muda tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga melahirkan pemain-pemain potensial yang dapat berkembang ke jenjang yang lebih tinggi.
Kejayan FC akhirnya membawa pulang gelar juara Bupati Cup 2026 melalui kemenangan 1-0 atas Kraton FC. Namun, berakhirnya final dengan kericuhan menjadi pekerjaan rumah bagi penyelenggara dan pihak terkait agar kompetisi berikutnya dapat berlangsung lebih aman, profesional dan tetap menjunjung tinggi sportivitas.
Trofi boleh menjadi milik sang juara, tetapi masa depan sepak bola muda Kabupaten Pasuruan tetap menjadi tanggung jawab bersama.
