Achmad Hidayat Kecewa Terhadap Proses Politik Dan Tata Kelola Organisasi Di Internal Partai
Surabaya, Cakranusantara.com
Kader muda PDI Perjuangan (PDIP) Achmad Hidayat mendatangi Kantor DPC PDI Perjuangan yang terletak di Jalan Setail Kota Surabaya sekitar pukul 13.35 WIB, dengan menggunakan mobil Avanza warna hitam turun dari mobil sambil membawa sebilah keris dan tiga botol berisi cairan spiritus. akan melakukan aksi bakar diri.
Setibanya di kantor DPC Achmad Hidayat berteriak keras menyebut nama Armuji Wakil Wali Kota Surabaya, hingga mengundang perhatian sejumlah kader dan warga setempat dengan keras mengatakan,
“De’e wedi dunyoe ilang. Kene nggawe nyowo, enggak ngara wani de’e. Ojok nunggangi partai gae kepentingan dewemu,” kata Achmad Hidayat saat di lokasi.
Dalam pernyataan terbukanya, Achmad Hidayat menyampaikan,pada wartawan Cakranusantara melalui WhatsAppnya 0813 3017 XXXX.
“Bahwa tindakan tersebut yang saya lakukan ini karena rasa kecewa saya terhadap proses politik dan tata laksana organisasi di Internal partai DPC Kota Surabaya yang diduga ada kepentingan Pribadi,” kata Ahmad Hidayat.
Senen (21/7/2025).
“Saya juga mendapat bukti bukti ini dari pengurus sendiri, karena mereka itu kompak kalau ada kepentingan, tapi saling juga membocorkan kalau yang tidak terakomodir.bahkan ada pesan WhatsApp pengurus yang menunjukkan pengusulan pembebas tugasan saya dilakukan secara diam diam,”kata Achmad Hidayat.
Selanjutnya Achmad Hidayat juga menyebutkan diduga ada rencana skenario yang lebih besar melibatkan pergantian Ketua DPRD kota Surabaya Adi Sutarwijono dengan Anas Karno
dan seluruh pengurus struktural lainnya.
“Semua ini diduga didesain untuk kepentingan pribadi. Bahkan bendahara cabang akan diganti Raden Taru Sasmito yang sudah disiapkan untuk tempat PAW saya, dan Adi Sutarwijono Ketua DPRD kota Surabaya akan digantikan oleh Anas Karno,”tuturnya
Achmad Hidayat juga menegaskan bahwa dirinya tidak menuntut jabatan ataupun kompensasi apapun. Ia hanya ingin “Keadilan ditegakkan oleh Ibu Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri,” (Nursyam).

