Bang Tyo Tegaskan Pers Harus Kritis dan Independen, Cakra Nusantara Online Soroti Ancaman Media yang Tunduk pada Kekuasaan

RUBRIK : NASIONAL | MEDIA & DEMOKRASI
Rabu, 29 April 2026 | 15.35 WIB
Penulis : Tirto Santoso
Editor : Redaksi Cakra Nusantara Online
Reporter : Tim Liputan

Forum diskusi terbuka yang digelar bersama pegiat media dan masyarakat kembali menegaskan pentingnya menjaga marwah pers sebagai pilar demokrasi yang kritis, independen, dan berani menjalankan fungsi kontrol sosial di tengah derasnya arus informasi digital.

Bang Tyo selaku Pimpinan Umum Media Cakra Nusantara Online menegaskan bahwa pers tidak boleh kehilangan jati diri sebagai pengawas kekuasaan. Menurutnya, pers lahir dari keberanian menyampaikan kebenaran, bukan menjadi alat legitimasi pihak tertentu.

Pers itu lahir dari jiwa kritis. Kalau hanya jadi corong pujian, itu bukan pers, melainkan propaganda yang dibungkus informasi,” tegas Bang Tyo saat menyampaikan pandangannya di hadapan peserta diskusi.

Ia menyoroti fenomena sebagian media yang dinilai semakin menjauh dari fungsi utamanya. Pemberitaan seremonial, pencitraan, dan narasi aman dinilai semakin dominan, sementara pengawasan terhadap kebijakan publik justru melemah.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan ancaman serius bagi kehidupan demokrasi. Ketika pers kehilangan keberanian, ruang kritik akan menyempit dan kekuasaan berpotensi berjalan tanpa pengawasan.

Kalau pers berhenti kritis, maka kontrol terhadap kekuasaan ikut mati. Saat itu publik akan kehilangan benteng terakhir pengawasan,” ujarnya.
Bang Tyo juga menekankan bahwa profesi wartawan menuntut tanggung jawab moral dan integritas tinggi. Wartawan, kata dia, bukan sekadar pemegang kartu identitas, melainkan penjaga akurasi dan kebenaran di ruang publik.

Harus ada verifikasi, konfirmasi, keberimbangan, dan keberanian menyampaikan fakta. Tanpa itu, jurnalistik hanya menjadi formalitas kosong,” tambahnya.

Dalam forum yang sama, Pimpinan Redaksi Cakra Nusantara Online, Supriyadi, turut menegaskan bahwa media wajib menjaga jarak dari kepentingan politik maupun ekonomi yang berpotensi mencederai independensi redaksi.
Menurut Supriyadi, tantangan terbesar media saat ini bukan hanya kecepatan menyampaikan informasi, tetapi menjaga integritas di tengah tekanan kekuasaan dan kepentingan modal.

Media itu bukan alat kepentingan. Jika media dipakai melayani kekuasaan, maka fungsi jurnalistiknya runtuh dan publik yang menjadi korban,” ujarnya.
Supriyadi juga menyoroti maraknya pemberitaan yang lebih mengedepankan pencitraan dibanding substansi. Menurutnya, praktik tersebut menjadi salah satu penyebab turunnya kepercayaan masyarakat terhadap media.

Kepercayaan publik itu mahal dan tidak bisa dibeli. Sekali hilang, sangat sulit dikembalikan. Satu-satunya jalan adalah konsisten menyajikan fakta, bukan opini yang disusupi kepentingan,” tegasnya.

Ia menolak pandangan bahwa media harus netral dalam arti pasif dan diam terhadap penyimpangan. Menurutnya, netralitas sejati adalah berpijak pada fakta dan berani mengoreksi yang salah.

Netral bukan berarti bungkam. Netral berarti berdiri di atas fakta. Kalau ada penyimpangan, media wajib bersuara. Itu bentuk tanggung jawab kepada publik,” katanya.

Bang Tyo dan Supriyadi sepakat bahwa kondisi pers nasional saat ini membutuhkan evaluasi serius. Mereka mengajak seluruh insan pers untuk kembali kepada prinsip dasar jurnalistik, yakni independensi, akurasi, keberimbangan, dan keberanian membela kepentingan masyarakat.

Keduanya juga mengingatkan masyarakat agar semakin cerdas dalam menyaring informasi. Di tengah banjir konten digital, publik diminta tidak mudah percaya pada narasi yang tidak melalui proses jurnalistik yang benar.

Publik harus cerdas. Tidak semua yang tampak seperti berita adalah berita. Banyak yang hanya kemasan untuk menggiring opini,” ujar Bang Tyo.

Forum diskusi tersebut menjadi pengingat bahwa pers bukan sekadar penyampai informasi, melainkan penjaga keseimbangan demokrasi.

Pers yang kuat adalah pers yang berani mengkritik, tidak tunduk pada tekanan, dan tetap berdiri di pihak kebenaran.
(TS/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *