Janji Sejahterakan Petani Hanya Omong Kosong, Proyek JUT Desa Plabuhan Jadi Ladang Bisnis Kotor Oknum Pelaksana

Jombang || Cakranusantara.online –

Proyek pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, kini menjadi bahan gunjingan pedas masyarakat. Proyek yang seharusnya menjadi sarana penting untuk meningkatkan akses pertanian justru berubah menjadi ironi. Belum genap satu bulan, cor-coran jalan tersebut sudah retak, pecah, dan mengelupas bak proyek usang yang sudah termakan waktu puluhan tahun.

Masyarakat setempat geram. Mereka menggagalkan kualitas proyek yang diperkirakan jauh dari spesifikasi teknis. Sejumlah warga bahkan mengungkapkan bahwa sejak awal pelaksanaan sudah terlihat banyak kejanggalan. Ironisnya, proyek yang menelan anggaran negara ratusan juta rupiah itu tidak dilengkapi dengan papan informasi kegiatan. Padahal, papan informasi adalah syarat mutlak agar masyarakat mengetahui berapa besar anggaran, siapa pelaksana, serta siapa pengawasnya.

“Yang kami tahu proyek ini dikerjakan oleh pihak CV, tapi nama CV-nya saja tidak pernah diumumkan. Warga mengetahui dari informasi belakangan, katanya dikerjakan CV Rizki Tiga Putra. Kalau tidak ada papan proyek, berarti ada yang ditutup-tutupi. Itu jelas pelanggaran,” ungkap satu warga yang enggan disebut namanya dengan nada tinggi.

Kecurigaan warga semakin menguat setelah melihat hasil pekerjaan yang amburadul. Diduga, pihak pelaksana dengan sengaja mengurangi kualitas material demi mengeruk keuntungan pribadi. Proses pemadatan yang seharusnya menggunakan bahan standar seperti sirtu atau besco, nyatanya hanya menggunakan tanah urug seadanya. Apalagi penggunaan plastik sebagai lapisan dasar pun nihil.

 

“Ini jelas proyek asal-asalan. Dengan anggaran hampir dua ratus juta, pasti kualitasnya bisa bagus. Tapi ini? Baru seumur jagung sudah rusak. Kalau begini, jelas ada dugaan bahan korupsi, uang rakyat dipotong demi memperkaya segelintir orang,” ujar warga lain dengan nada geram.

Lebih jauh lagi, warga menuding adanya permainan busuk sejak perencanaan hingga pelaksanaan. Indikasi adanya kongkalikong antara pelaksana dengan oknum dinas tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, pengawasan yang seharusnya dilakukan secara ketat seperti menutup mata.

Saat dikonfirmasi, Roni selaku Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang hanya menjawab singkat, “Terima kasih atas informasinya, kami akan menindaklanjutinya.” Jawaban normatif ini membuat masyarakat semakin kecewa. Alih-alih memberikan penjelasan detail, pernyataan itu justru dianggap sebagai bentuk lepas tangan tanpa solusi nyata.

Aktivis LSM yang bergerak di bidang pengawasan anggaran juga ikut bersuara. Mereka mendesak aparat penegak hukum untuk segera turun tangan. “Kalau dibiarkan, praktek-praktek culas seperti ini akan terus berulang. Negara dirugikan, rakyat jadi korban. Sudah saatnya aparat Kejaksaan maupun Tipikor Polres menelusuri dugaan penyelewengan ini. Jangan tunggu sampai anggaran habis dan jalan rusak total baru ribut,” tegas salah satu aktivis.

Proyek ini sejatinya dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, apa daya, justru menjadi ajang bancakan oknum nakal yang lebih mementingkan isi kantong dibandingkan kesejahteraan rakyat. Jika tidak segera diketahui, kasus ini bisa menjadi preseden buruk sekaligus menampilkan betapa lemahnya pengawasan pemerintah terhadap proyek infrastruktur desa.

Masyarakat Desa Plabuhan kini menuntut transparansi penuh, mulai dari proses perencanaan, anggaran, hingga pelaksanaan. Mereka yakin akan terus mengawali permasalahan ini dan melaporkannya ke instansi yang berwenang. “Uang rakyat bukan untuk dipermainkan. Kami akan kawal sampai tuntas, siapa pun yang terlibat harus bertanggung jawab,” tegas warga.

Kasus proyek JUT Desa Plabuhan ini kembali membuka mata bahwa program pembangunan sering kali hanya jadi formalitas belaka. Papan proyek yang hilang, kualitas yang amburadul, serta pengawasan yang longgar hanyalah puncak dari gunung es. Pertanyaan yang lebih besar kini mengemuka: sampai kapan praktik busuk semacam ini dibiarkan hidup subur di Jombang?

(Pras)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *