KADES GEMBLEB SUWITO ALIAS PAK BERO MENGAMUK, BENTAK WARTAWAN LEWAT TELEPON DAN WHATSAPP, DESAK BERITA ANGGARAN DANA DESA DIHAPUS

GEMBLEB – POGALAN – TRENGGALEK
Polemik pengelolaan Dana Desa Gembleb semakin memanas. Setelah muncul sorotan publik terkait penggunaan anggaran desa, Kepala Desa Gembleb, Suwito atau yang akrab disapa Pak Bero, justru diduga menunjukkan sikap emosional dengan membentak wartawan melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp.

Menurut keterangan awak media, Kades Suwito meminta dengan nada tinggi agar seluruh pemberitaan yang membahas pengelolaan anggaran Dana Desa dihentikan dan dihapus.
“Suruh berhenti pemberitaan yang berkaitan dengan anggaran Dana Desa yang saya kelola!” ujar Suwito sebagaimana ditirukan wartawan yang menerima telepon tersebut.
Sikap tersebut memicu tanda tanya. Di saat masyarakat menunggu penjelasan terbuka mengenai penggunaan anggaran desa, yang muncul justru kemarahan dan tekanan terhadap pihak yang melakukan peliputan.

Awak media yang menerima telepon itu mengaku tetap menjalankan tugas jurnalistik sesuai prosedur. Menurutnya, setiap berita yang dipublikasikan telah didasarkan pada data serta upaya konfirmasi kepada pihak terkait.
“Pak, kami hanya menjalankan tugas jurnalistik. Apa yang Bapak sampaikan itulah yang kami tulis. Kalau memang semua penggunaan anggaran sudah sesuai aturan, seharusnya dijelaskan kepada publik, bukan meminta berita dihapus,” ujar wartawan tersebut.

Peristiwa ini kemudian menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Sejumlah warga menilai bahwa pejabat publik semestinya memberikan klarifikasi dan membuka ruang dialog apabila terdapat pertanyaan mengenai pengelolaan keuangan desa, bukan merespons dengan kemarahan.

Sorotan terhadap Dana Desa Gembleb sebelumnya muncul setelah sejumlah pos anggaran dan program desa menjadi bahan pertanyaan masyarakat. Hingga kini, warga masih menunggu penjelasan rinci serta pertanggungjawaban yang transparan terkait penggunaan anggaran tersebut.

Sampai berita ini ditulis, pemberitaan mengenai Dana Desa Gembleb masih beredar dan belum terdapat keterangan resmi yang menjawab secara menyeluruh berbagai pertanyaan yang berkembang di masyarakat. Di sisi lain, dugaan adanya upaya menekan dan menghentikan pemberitaan justru menambah perhatian publik terhadap persoalan ini. (G

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *