Dugaan Aturan Hitam di PT YTL Jatim: Mobil Perusahaan Dipaksa Berebut BBM Subsidi, Sunyi Saat Dikonfirmasi

PROBOLINGGO, Mcn online —09 Des 2025

Ledakan kejanggalan kembali mengguncang jagat industri energi di Probolinggo.

Di tubuh PT YTL Jawa Timur—perusahaan besar yang mestinya berdiri di garis depan etika energi—muncul dugaan praktik internal yang membuat publik terhenyak: mobil operasional didorong memakai BBM subsidi.

 

Ya, subsidi.

BBM yang disiapkan negara bagi rakyat kecil, UMKM, nelayan, petani—bukan perusahaan raksasa dengan operasional miliaran rupiah.

 

Seorang pekerja internal yang membuka suara menggambarkan situasinya sebagai “aturan hitam yang tak tertulis, tapi wajib ditaati seolah nyawa taruhannya.”

 

> “Coba saja isi Dexlite atau Pertamax. Atasan langsung tanya. Rasanya kayak nyelonong masuk zona terlarang,” ungkapnya.

 

 

 

Kebijakan senyap itu memaksa para sopir mengantre panjang di SPBU, bersaing dengan masyarakat kecil demi Solar dan Pertalite.

Pemandangan yang absurd, menghentak, dan memancing satu pertanyaan besar: kenapa perusahaan energi sebesar YTL justru ikut menggerogoti kuota subsidi?

 

> “Kami cuma ikut perintah. Tapi kalau dipikir, ini aneh luar biasa. Kok bisa perusahaan segede itu turun ke kelas subsidi?” tambahnya dengan nada penuh tanda tanya.

 

 

 

Akibat aturan yang tidak jelas itu, mobil operasional sering terjebak antrean berjam-jam.

Waktu kerja terbang. Efisiensi ambruk. Mobilitas lumpuh.

Semua hanya demi memenuhi kebijakan yang bahkan tak pernah berani dituliskan di atas kertas.

 

> “Pekerjaan sering mundur. Antreannya gila-gilaan,” tegas narasumber.

 

 

 

Lebih panas lagi, ketika redaksi mencoba mengonfirmasi kepada Iwan Suhandoko selaku Penanggung Jawab Mobil Operasional PT YTL Jawa Timur, yang muncul justru kesunyian.

Pesan WhatsApp tak dibaca. Tak dijawab. Tak disentuh. Seolah ada tembok sunyi yang disusun rapi.

 

Sementara perusahaan-perusahaan energi lain di Probolinggo sudah lama beralih ke BBM non-subsidi sebagai bentuk kepatuhan moral, YTL justru diduga melangkah ke arah yang berlawanan—arah yang membuat publik geleng kepala.

 

Kini, BrataPos tengah menelusuri apakah praktik ini bagian dari instruksi resmi manajemen, atau justru kebijakan liar di tingkat pengawas.

Yang jelas, ledakan kejanggalan ini tak bisa diredam begitu saja. Ada sesuatu di dalam PT YTL Jawa Timur yang sedang berdenyut, menun

ggu untuk diungkap lebih terang.

(Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *