Pekerjaan rel kereta api di Tongas ciptakan lorong derita

Probolinggo 09 Desember 2025 Mcn online

Sudah sepuluh hari penuh perlintasan rel kereta api di Desa Curahtulis, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, dibiarkan setengah hidup–setengah mati. Perbaikan kecil yang seharusnya bisa selesai cepat justru berubah menjadi sumber kekacauan massal: kemacetan tanpa ampun, warga pontang-panting, risiko kecelakaan seperti bom waktu yang menunggu meledak, dan perputaran ekonomi warga tersedak setiap hari.

 

Di lapangan, pemandangan yang muncul benar-benar menyulut emosi. Pekerjaan cuma selebar 1,5 meter dan sepanjang 6 meter, tapi digarap dengan ritme seperti proyek puluhan miliar. Pelan, lamban, dan tanpa arah. Tak ada tanda kapan akan selesai—yang ada hanya debu, lubang, dan amarah pengguna jalan.

Jalur nasional Surabaya–Banyuwangi berubah menjadi lorong derita. Antrean kendaraan mengular tanpa ujung, dari Pasuruan hingga mendekati Kota Probolinggo. Sopir truk kehilangan jam kerja, bus tersendat, motor mengerubung tanpa opsi lain. Setiap hari, jalur itu seakan dikonversi menjadi parkiran raksasa.

Warga lokal? Sama saja: menderita. Petani terhalang ke sawah. Anak sekolah harus menembus area yang berbahaya, berharap hari itu bukan giliran mereka yang jatuh.

“Setiap hari ada motor jatuh. Jalannya licin dan tidak rata. Tapi tetap saja dibiarkan,” ujar seorang warga dengan nada putus asa bercampur kesal.

Keluhan dari sopir angkutan barang jauh lebih panas.

“Mosok pekerjaan secuil itu sampai sepuluh hari gak rampung? Rugi waktu, rugi solar, rugi tenaga. Mau sampai kapan begini?” semprot seorang sopir truk.

Yang membuat situasi makin absurd, lokasi itu dibiarkan tanpa rambu peringatan, tanpa spanduk informasi, tanpa pengamanan proyek. Pengendara seolah dipaksa berjudi dengan keselamatan mereka sendiri—setiap hari, setiap menit.

 

Upaya wartawan MCN Online menghubungi instansi terkait hanya menghasilkan drama klasik: semua saling menepis, semua saling mendorong tanggung jawab. Tidak ada satu pihak pun yang benar-benar mau berdiri di depan dan berkata, “Kami tanggung jawab.”

 

Tak heran, masyarakat mulai mempertanyakan keberadaan Aparat Penegak Hukum (APH) dalam situasi yang jelas-jelas rawan memakan korban ini. Ada ancaman keselamatan nyata, tapi tindakan tegas dan pengamanan serius seperti tidak dianggap penting.

Warga mendesak keras agar proyek ini dipercepat dan dilengkapi pengamanan layak: rambu, penerangan, penjagaan.

“Jangan tunggu ada yang mati dulu baru gerak. Keselamatan kami bukan bahan percobaan,” tegas seorang warga.

Namun hingga berita ini diterbitkan, perbaikan rel Curahtulis masih berjalan tanpa kepastian, tanpa arah, dan tanpa rasa urgensi.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *