KONTROVERSI TPA WONOKERTO

OPINI PUBLIK • SERI 12
KONTROVERSI TPA WONOKERTO
Bupati Menyebut RDF Sebagai Solusi. Tapi RDF Butuh Sampah Terpilah — Padahal Itulah yang Belum Jalan.
Kajian berbasis data resmi Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan pemantauan mandiri
Ini bagian yang paling perlu dipahami warga, dan kami akan menjelaskannya sepelan mungkin.
Teknologi yang akan diterapkan disebut RDF. Kepanjangannya Refuse Derived Fuel — dalam bahasa sederhana: bahan bakar yang dibuat dari sampah.
Cara kerjanya: sampah dipilah, dicacah kecil-kecil, lalu dikeringkan. Hasilnya menjadi bahan bakar yang bisa dipakai di pabrik — misalnya pabrik semen — menggantikan batu bara.
Bagus? Sangat bagus. Sampah berkurang, energi bertambah.
Dalam pemberitaan April 2026, Bupati Rusdi Sutejo menyebut teknologi ini sebagai solusinya, dengan harapan sampah yang masuk TPA bisa dikelola habis.
Tetapi ada syarat yang harus dipenuhi lebih dulu — dan syarat inilah yang perlu diperhatikan.
RDF tidak bisa dibuat dari sampah yang basah dan bercampur.
Supaya bisa jadi bahan bakar, sampahnya harus:
Sudah dipilah — logam, kaca, dan sampah basah harus dikeluarkan lebih dulu
Kering — sampah basah tidak bisa terbakar dengan baik
Punya nilai panas cukup — plastik dan kertas bagus, sisa sayur tidak
Sekarang letakkan dua pernyataan Bupati sendiri berdampingan — keduanya disampaikan pada hari yang sama:
Pernyataan pertama: program TPS3R, yang tugasnya memilah sampah, mengalami kendala teknis.
Pernyataan kedua: solusinya adalah RDF — teknologi yang justru membutuhkan sampah yang sudah terpilah.
Kami tidak mengatakan teknologi ini akan gagal. Kami tidak berwenang mengatakan itu, dan kami tidak akan mengatakannya.
Bisa saja perusahaan membawa mesin pemilah sendiri. Bisa saja yang diolah hanya sampah industri yang memang lebih bersih. Bisa saja ada rencana yang belum kami ketahui.
Justru karena itu kami bertanya — sekarang, sebelum semuanya berjalan.
Sebab membangun teknologi canggih di atas sistem pemilahan yang belum jalan itu seperti memasang keran mewah di rumah yang pipa airnya belum tersambung.
Kerannya bagus. Tapi airnya dari mana?
Pertanyaan kami kepada Bupati Rusdi Sutejo:
Sampah jenis apa yang akan diolah — rumah tangga, industri, atau keduanya?
Siapa yang memilah, dan di mana pemilahannya dilakukan?
Berapa kapasitasnya per hari, dan berapa persen dari sampah Kabupaten Pasuruan yang tertangani?
Apa yang terjadi pada sisanya yang tidak bisa jadi bahan bakar?
Kalau pemilahan di hulu masih bermasalah — sebagaimana Bapak akui sendiri — bagaimana teknologi ini akan mendapatkan bahan bakunya?
Pertanyaan kelima bukan pertanyaan menjebak.
Itu pertanyaan yang seharusnya sudah terjawab di dalam dokumen perencanaan sebelum nota kesepahaman ditandatangani.
Kalau jawabannya sudah ada, tinggal ditunjukkan.
FORMAT PASURUAN — Forum Rembuk Masyarakat Pasuruan
Ismail Makky, SE. SH., MM. — Ketua
