SPBU Gending Diduga Jadi Lumbung Penguras BBM Subsidi, Praktik Kotor Terbongkar di Tengah Penderitaan Rakyat
PROBOLINGGO // Cakra Nusantara –
Apa yang terjadi di SPBU 54.672.12 Gending bukan lagi sekadar dugaan pelanggaran biasa. Dari hasil investigasi di lapangan, lokasi yang seharusnya menjadi tempat distribusi BBM untuk rakyat justru diduga kuat berubah menjadi titik permainan kotor yang menguras hak masyarakat secara sistematis.
Di saat rakyat kecil dipaksa antre panjang, bahkan pulang dengan tangan kosong akibat alasan klasik “BBM habis” atau “mesin error”, justru ada kendaraan-kendaraan tertentu yang diduga mendapat perlakuan istimewa—dilayani cepat, berulang, dan tanpa hambatan.
Redaksi Media dari tim Investigasi khusus menemukan pola yang mengindikasikan adanya skenario yang dimainkan secara rapi.
“Kami diminta menunggu dengan alasan mesin rusak. Tapi tidak lama kemudian, kendaraan tertentu langsung dilayani. Ini bukan kebetulan, ini pola,” ungkap wartawan Media ini
Ironisnya, kendaraan yang sama terpantau kembali mengisi BBM dalam waktu singkat, memperkuat dugaan adanya distribusi tidak wajar yang berpotensi mengarah pada penimbunan atau penyalahgunaan.
Di lokasi, terlihat sejumlah armada dengan indikasi kuat telah dimodifikasi untuk mengangkut BBM dalam jumlah besar. Truk dengan tangki tambahan hingga kendaraan yang keluar-masuk secara berulang menjadi pemandangan yang sulit disangkal.
“Kalau ini dibilang tidak tahu, itu tidak masuk akal. Aktivitasnya terang-terangan. Justru terkesan dibiarkan,” tegas salah satu sopir yang kebetulan sedang mengisi BBM.
Nama-nama operator hingga pengawas ikut terseret dalam dugaan ini. Publik pun mulai bertanya: apakah ini hanya kelalaian, atau justru ada pembiaran yang disengaja?. Situasi ini menjadi tamparan keras bagi masyarakat. Di tengah meningkatnya kebutuhan menjelang arus mudik, BBM subsidi yang seharusnya menjadi penyelamat justru diduga dijadikan komoditas oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.
“Kami antre lama, kadang tidak kebagian. Tapi yang jelas-jelas bukan untuk kebutuhan biasa malah dilayani. Ini sangat tidak adil,” keluh seorang warga.
Jika praktik ini terus dibiarkan, bukan hanya kerugian negara yang membengkak, tetapi juga memperdalam ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem distribusi energi.
Kasus ini kini menjadi ujian nyata bagi aparat penegak hukum. Tidak cukup hanya dengan pengawasan di atas kertas, dibutuhkan tindakan nyata dan tegas di lapangan.
“Ini bukan lagi persoalan kecil. Kalau dibiarkan, publik akan menilai ada pembiaran. Bahkan bisa memunculkan dugaan yang lebih serius,” jelas salah satu warga lainnya yang sering kehabisan jika membeli BBM di SPBU ini
Pemeriksaan rekaman CCTV, penelusuran kendaraan, hingga audit distribusi BBM di SPBU tersebut menjadi langkah mendesak yang tidak bisa ditunda. SPBU 54.672.12 Gending kini berada di bawah tekanan publik. Dugaan praktik yang terjadi di dalamnya tidak hanya mencederai aturan, tetapi juga merampas hak masyarakat luas.
Jika benar ada keterlibatan internal, maka ini bukan sekadar pelanggaran, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap amanah distribusi BBM subsidi. Redaksi Media ini menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga terang benderang, tanpa kompromi.

