“NOT FOR SALE.” LALU SIAPA YANG MAU MEMBELINYA?

 

OPINI FORMAT PASURUAN — SERI 11

Antara Persekabpas (Dijanjikan Milik Rakyat) dan Pasuruan United (Milik Swasta)
“NOT FOR SALE.”
LALU SIAPA YANG MAU MEMBELINYA?
Ada sebuah anekdot sederhana.
Kalau ada orang berdiri di depan rumahnya sambil berteriak, “Rumah saya tidak dijual!”, orang yang lewat biasanya tidak langsung bertanya soal rumah itu.
Mereka justru akan bertanya,

“Memangnya ada yang mau beli?”
Pernyataan seperti itu hanya menarik perhatian ketika memang ada pembeli yang berebut.

Belakangan, Suryono Pane menegaskan bahwa Pasuruan United “not for sale”, sebagaimana disampaikan dalam wawancaranya. Pernyataan itu terdengar tegas. Namun, muncul pertanyaan yang barangkali lebih sederhana.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar pulih, siapa sebenarnya yang ingin membeli sebuah klub sepak bola daerah?
Mengelola klub sepak bola bukan perkara murah.

Biaya operasionalnya sangat besar. Mulai dari gaji pemain dan pelatih, transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan mengikuti kompetisi. Sementara itu, sumber pendapatan klub, khususnya di level Liga 3, belum tentu mampu menutup seluruh biaya tersebut.
Artinya, memiliki klub sepak bola bukan hanya soal prestise, tetapi juga soal kemampuan membiayai operasional secara berkelanjutan.

Karena itu, muncul pertanyaan lain yang justru lebih penting.
Kalau kemungkinan ada pembeli saja belum tentu realistis, mengapa isu “tidak dijual” menjadi hal yang tiba-tiba disampaikan di siang bolong?

Publik sesungguhnya tidak sedang sibuk memikirkan apakah Pasuruan United akan dijual atau tidak. Karena itu tidak penting.
Publik lebih ingin mengetahui sesuatu yang jauh lebih mendasar.

Bagaimana klub ini dikelola? Dari mana sumber pendanaannya? Bagaimana keberlanjutan finansialnya?
Itulah pertanyaan yang hingga kini jauh lebih menarik daripada sekadar slogan “Not For Sale.”
Sebab, bagi masyarakat, persoalannya bukan siapa yang akan membeli.
Melainkan siapa yang membiayai, bagaimana pembiayaannya, dan apakah seluruh prosesnya berlangsung secara transparan.

Karena pada akhirnya, sebuah klub sepak bola tidak cukup bertahan hanya dengan slogan.
Ketegasan menolak dijual itu kedengarannya lucu. Ketahanan finansial di tengah ekonomi yang sulit — itu yang harus dibuktikan, bukan sekadar diucapkan.

— FORMAT PASURUAN – Ismail Makky, SE. SH., MM. (Ketua)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *