Arena Judi Menantang Negara: Sabung Ayam, Dadu, dan Cap Jeky Diduga Bebas Beroperasi di Sambigede

“Arena Judi Menantang Negara: Sabung Ayam, Dadu, dan Cap Jeky Diduga Bebas Beroperasi di Sambigede”

Malang || Cakra Nusantara –

Negeri yang Kalah di Arena Judi: Sabung Ayam, Dadu, dan Cap Jeky Diduga Merajalela di Sambigede
Kabupaten Malang kembali dipermalukan oleh wajah kelam kejahatan yang tumbuh subur di tengah masyarakat.

Di Desa Sambigede, Kecamatan Sumber Pucung, sebuah arena perjudian sabung ayam diduga beroperasi terang-terangan, seolah-olah hukum tak pernah lahir di wilayah ini. Lebih mengerikan lagi, arena tersebut bukan sekadar sabung ayam, melainkan markas perjudian lengkap yang juga menyediakan permainan dadu dan cap jeky—paket sempurna untuk menguras uang rakyat dan menghancurkan sendi-sendi sosial.

Menurut keterangan warga sekitar, aktivitas haram ini bukan fenomena baru. Arena perjudian tersebut disebut telah lama beroperasi, berpindah-pindah lokasi layaknya hantu kejahatan yang selalu lolos dari kejaran aparat. Ketika satu lokasi dibubarkan, ia muncul kembali di tempat lain, lebih rapi, lebih tertutup, dan diduga lebih berani.

“Sudah lama sekali di sini. Dulu di Desa Ngajum, tapi karena dibubarkan, pindah ke Sambigede,” ujar seorang warga yang memilih bungkam soal identitasnya, Sabtu (03/01/2025).

Pernyataan ini menyimpan tamparan keras bagi aparat penegak hukum. Jika benar arena judi ini hanya berpindah lokasi, maka pertanyaan besarnya adalah :
apakah pembubaran yang dilakukan selama ini hanya formalitas tanpa pemutusan jaringan ?.

Warga menyebut, arena perjudian tersebut beroperasi nyaris tanpa rasa takut. Setiap akhir pekan — Jumat, Sabtu, dan Minggu — lokasi itu berubah menjadi pasar dosa. Para penjudi datang berbondong-bondong, tidak hanya dari Sambigede, tetapi juga dari desa sekitar hingga luar kota. Mereka mempertaruhkan uang, harga diri, bahkan masa depan keluarga, di atas arena berdarah sabung ayam.

Lebih jauh, warga juga menyebut satu nama yang diduga sebagai penanggung jawab utama arena perjudian, yakni Junaidi. Nama ini berulang kali disebut sebagai sosok yang mengendalikan jalannya perjudian sabung ayam di lokasi tersebut.

“Yang pegang di sini Junaidi. Dia yang bertanggung jawab,” kata warga dengan suara lirih, seolah takut ada telinga yang menguping.

Jika keterangan warga ini benar, maka aktivitas perjudian tersebut berjalan secara terorganisir, bukan sekadar kumpulan penjudi musiman. Ada struktur, ada pengelola, dan tentu ada aliran uang yang tak sedikit. Namun ironisnya, hingga kini tidak tampak langkah tegas dari aparat kepolisian setempat untuk menutup arena tersebut secara permanen.

Kondisi ini menimbulkan kecurigaan serius di tengah masyarakat. Bagaimana mungkin arena perjudian sebesar ini bisa bertahan lama tanpa tersentuh hukum? Apakah aparat kecolongan? Ataukah ada pembiaran sistematis yang sengaja dibiarkan?

Perjudian bukan sekadar pelanggaran hukum biasa. Ia adalah akar dari kehancuran sosial, memicu kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, kriminalitas lanjutan, hingga rusaknya masa depan anak-anak. Ketika perjudian dibiarkan hidup, maka negara sesungguhnya sedang membiarkan rakyatnya tenggelam dalam jurang kehancuran.

Warga Sambigede mengaku resah. Mereka takut bersuara lebih keras karena khawatir akan dampak sosial dan tekanan dari pihak-pihak tertentu. Ketakutan ini justru mempertegas satu hal: hukum belum benar-benar hadir untuk melindungi warga.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya melakukan koordinasi dan konfirmasi dengan aparat penegak hukum setempat hingga Polda Jawa Timur guna meminta tanggapan resmi terkait dugaan aktivitas perjudian tersebut. Publik kini menanti sikap tegas aparat, apakah hukum akan turun tangan dan membersihkan arena judi ini, atau justru kembali kalah di hadapan praktik ilegal yang menantang negara secara terbuka?
Jika arena perjudian ini terus dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya uang di meja taruhan dan darah ayam di gelanggang, melainkan martabat hukum dan wibawa negara itu sendiri.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *