Skandal JITUT Sentul: Baru Dua Minggu Dibangun, Sudah Pecah – Petani Menjerit, Negara Diduga Dirugikan
JOMBANG || Cakranusantara.online –
Pembangunan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT) yang digadang-gadang sebagai proyek strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Desa Sentul, Kabupaten Jombang, kini berubah menjadi bahan gunjingan pedas dan mengecewakan secara mendalam.
Proyek dengan anggaran fantastis Rp 63.701.411,29 yang dikerjakan oleh CV Rizki Tiga Putrara dengan volume 68 meter ini ternyata hanya mampu bertahan dua minggu. Kini, dinding bangunan irigasi tersebut sudah pecah, retak, bahkan di beberapa titik tembus udara.

Alih-alih membawa manfaat bagi petani, proyek ini justru menimbulkan dugaan adanya kondisi, permainan anggaran, serta pengawasan yang lemah dari Dinas Pertanian Jombang. Seorang petani dengan nada getir menunjukkan retakan yang menganga pada bangunan tersebut.
“Itu sudah pecah, pak. Baru selesai dibangun, sudah rusak di beberapa titik. Apakah karena ini uang negara, terus seenaknya digunakan? Kalau uang pribadi pasti mikir seribu kali. Kami yang petani ini hanya bisa gigit jari,” ucapnya sambil menggeleng kepala penuh kecewa.
Kekecewaan petani ini bukan tanpa alasan. Selama ini, mereka hanya bisa berharap agar pemerintah memberikan perhatian serius pada infrastruktur pertanian. Namun, hasil di lapangan justru berbanding terbalik. Bangunan rapuh, kualitas mengecewakan, dan sangat jelas tidak sesuai harapan.

Sorotan keras datang dari Bang Tyo, DPP LSM GEMPAR. Ia menilai proyek ini sarat dengan praktik buruk yang merugikan negara dan rakyat.
“Banyak bukti di lapangan bahwa pekerjaan ini asal-asalan. CV Rizki Tiga Putra tidak layak lagi mendapatkan proyek pemerintah. Kalau masih dipakai untuk tahun-tahun berikutnya, jangan salahkan rakyat jika menganggap pemerintah ikut bermain dalam pemborosan anggaran negara,” tegas Bang Tyo.
Lebih jauh lagi, ia mendesak agar kontraktor ini dimasukkan dalam daftar hitam dan aparat penegak hukum turun tangan menyelidiki dugaan adanya praktik korupsi. Menurutnya, proyek pemerintah bukanlah bancakan untuk menyejahterakan kelompok tertentu, melainkan amanah besar dari rakyat.
Muncul pertanyaan besar: bagaimana mungkin proyek bernilai puluhan juta rupiah bisa rusak dalam waktu singkat?
Banyak kalangan menilai, hal ini terjadi karena pengawasan dari Dinas Pertanian Jombang lemah, bahkan diduga ada pembiaran. Seharusnya, sebelum serah terima pekerjaan, ada pemeriksaan menyeluruh. Namun, kenyataannya bangunan sudah retak padahal masih seumur jagung.
Jika benar ada pembiaran, berarti bukan hanya kontraktor yang bermain, tetapi juga oknum dinas yang menutup mata demi bagi-bagi keuntungan.
Para petani yang mendesak agar proyek semacam ini tidak lagi dijadikan ladang korupsi. Mereka butuh pembangunan nyata, bukan proyek abal-abal yang hanya merugikan.
“Kami tidak meminta banyak, hanya meminta irigasi yang kuat dan bermanfaat. Kalau setiap proyek hanya untuk mengisi kantong pribadi, lalu nasib kami bagaimana? Sawah butuh air, bukan janji-janji busuk,” keluh salah seorang petani dengan nada marah.
LSM, aktivis, dan masyarakat mendesak agar aparat hukum, mulai dari Inspektorat, Kejaksaan, hingga Kepolisian, segera melakukan investigasi mendalam. Ada indikasi kuat bahwa proyek ini bukan hanya soal kelalaian kontraktor, tapi juga terkait permainan anggaran dan mark up material.
Jika benar terbukti ada penyelewengan, maka kontraktor dan oknum pejabat terkait harus diseret ke meja hijau. Rakyat sudah terlalu sering dikhianati dengan proyek asal jadi yang ujung-ujungnya hanya menimbulkan kerugian negara.
Kasus JITUT Sentul menjadi cermin bobroknya sistem pembangunan yang hanya mengejar proyek tanpa kualitas. Anggaran miliaran rupiah yang sejatinya untuk rakyat, berubah menjadi proyek bancakan kelompok tertentu.
Jika hal semacam ini terus dibiarkan, jangan salahkan rakyat jika semakin muak dan hilang kepercayaan terhadap pemerintah.
✍️ (Pras)

