Kepala Desa Sumberbendo Abah Jumali Bangun Desa Bersama Masyarakat, Wujudkan Gotong Royong dan Transparansi

 

Lamongan – // Cakranusantara.online – Semangat kebersamaan dan gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam membangun desa. Hal ini tercermin dari langkah Kepala Desa Sumberbendo, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan, yang memilih untuk tidak hanya duduk di belakang meja, tetapi turun langsung ke lapangan proyek pembangunan bersama membangun masyarakat desanya.

Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai kegiatan pembangunan fisik dan pemberdayaan masyarakat Desa Sumberbendo berjalan lebih hidup. Mulai dari perbaikan jalan lingkungan, pembangunan saluran irigasi, hingga perbaikan sarana umum desa dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara aktif.

Abah Jum ali menegaskan bahwa pembangunan desa tidak boleh hanya menjadi urusan pemerintah desa semata. Baginya, pembangunan yang sejati adalah ketika masyarakat ikut serta, baik dalam bentuk tenaga, ide, maupun pengawasan.

“Kalau membangun desa hanya mengandalkan pemerintah desa, pasti terbatas. Tapi kalau bersama-sama, semua bisa kita kerjakan. Kami ingin Desa Sumberbendo maju dengan semangat gotong royong, transparansi, dan partisipasi masyarakat,” tegas Abah Jum ali saat ditemui di kantor Desa Sumberbendo pada hari Rabu (10/09/2025).

Gotong Royong Jadi Tulang Punggung pembangunan jalan penghubung antar-RT misalnya, tidak hanya dilakukan oleh pekerja harian, tetapi juga melibatkan warga secara sukarela. Para pemuda membantu pengangkutan material, para ibu menyiapkan konsumsi, sementara perangkat desa memastikan administrasi dan penggunaan dana berjalan sesuai aturan.

Bagi abah Jum ali, hal semacam ini bukan hanya soal efisiensi anggaran, tetapi juga membangun rasa memiliki. Ketika masyarakat merasa terlibat, mereka akan mewujudkan hasil pembangunan dengan kesadaran penuh.

Transparansi dan Anti-KKN, hal lain yang diapresiasi banyak pihak adalah keterbukaan dalam mengelola anggaran desa. Setiap penggunaan Dana Desa (DD) maupun Alokasi Dana Desa (ADD) selalu diumumkan secara terbuka melalui papan informasi desa. Selain itu, setiap rapat musyawarah selalu melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan perwakilan perempuan.

Seorang tokoh masyarakat, Agus (52), menyampaikan apresiasinya: “Pak Kades Jum ali itu beda. Beliau tidak hanya memimpin, tapi juga ikut bekerja bersama warga. Yang paling penting, semua jelas. Anggaran dibuka, acara diumumkan, sehingga masyarakat percaya. Tidak ada yang ditutup-tutupi.”

Pemberdayaan Ekonomi Warga, selain pembangunan fisik, pak kades Jum ali juga mendorong pemberdayaan ekonomi warga melalui program kelompok usaha kecil, pelatihan wirausaha, dan peningkatan potensi pertanian, Desa Sumberbendo yang mayoritas warganya petani kini mulai mengembangkan sistem pertanian terpadu, termasuk diversifikasi hasil pertanian agar lebih bernilai jual.

Apalagi di bawah kepemimpinan Pak kades Jum ali, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mulai dirintis lebih serius sebagai motor penggerak ekonomi desa. BUMDes diharapkan bisa membuka peluang kerja baru, menekan penurunan, dan meningkatkan pendapatan desa.

Harapan ke Depan, pembangunan partisipatif yang diterapkan pak kades Jum ali mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Para pemuda desa menyatakan siap terus berkontribusi dalam setiap program pembangunan. Ujar agus warga Sumberbendo pada media awak.

Sementara itu, abah kasiono mengatakan pada media Cakranusantara.online berharap semangat kebersamaan ini bisa terus dijaga. Menurutnya, desa tidak akan maju hanya karena kepala desa, tapi karena seluruh masyarakatnya.

“Saya bukan apa-apa tanpa masyarakat. Desa ini bisa maju karena kita semua mau bergerak bersama. Inilah semangat asli bangsa kita: gotong royong. Dan Sumberbendo harus jadi contoh,” ujarnya Abah Jum ali penuh optimisme.

Dengan pola kepemimpinan yang terbuka, merakyat, dan melibatkan semua pihak, Desa Sumberbendo kini mulai menunjukkan perubahan nyata. Jalan desa yang mulus, fasilitas umum yang lebih baik, hingga semangat kebersamaan yang semakin menguat menjadi bukti bahwa membangun desa tidak harus mewah, tapi harus tulus dan bersama-sama. (Bodeng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *