H. Tony Riyadi, S.H Tancap Gas Bangun Desa Keras Wetan: Libatkan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Karang Taruna

Ngawi || Cakranusantara.online –

Sejak dilantik sebagai Kepala Desa Keras Wetan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, H. Tony Riyadi, S.H langsung menunjukkan gebrakan nyata. Tidak ada waktu terbuang. Dari awal masa jabatannya, ia memilih langkah cepat dengan mengedepankan pembangunan berbasis gotong royong, transparansi, dan partisipasi aktif masyarakat.

H. Tony Riyadi, S.H memahami bahwa amanah sebagai kepala desa bukan sekadar jabatan, tetapi sebuah tanggung jawab besar. Begitu duduk di kursi kepemimpinan, dirinya langsung “gaspol” membenahi berbagai sektor yang menjadi kebutuhan dasar warga. Infrastruktur, pelayanan masyarakat, hingga pemberdayaan ekonomi desa menjadi fokus utama.

“Desa harus dibangun dengan melibatkan semua pihak. Tidak bisa hanya kerja kepala desa saja. Saya ingin seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemuda, sama-sama bergerak,” tegas Tony dalam sebuah kesempatan.

Kesadaran bahwa desa akan maju bila warganya kompak, membuat Tony aktif menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Mereka dilibatkan dalam musyawarah desa, penentuan prioritas pembangunan, hingga pengawasan jalannya program.

Tokoh agama berperan penting menjaga nilai spiritual dan moral, sementara tokoh masyarakat memberi masukan berdasarkan kebutuhan lapangan. Dengan pola ini, pembangunan tidak hanya berorientasi fisik, tetapi juga membangun jiwa sosial dan karakter masyarakat desa.

Salah satu langkah progresif yang dilakukan Tony adalah menjadikan Karang Taruna sebagai ujung tombak pembangunan. Pemuda dilibatkan dalam berbagai kegiatan strategis, mulai dari kerja bakti perbaikan infrastruktur, kegiatan sosial, hingga pengembangan usaha kreatif desa.

Menurut Tony, pemuda adalah aset desa yang harus diberi ruang. “Mereka punya tenaga, kreativitas, dan semangat. Jika dilibatkan, mereka bisa menjadi motor penggerak perubahan,” ujarnya.

Langkah ini mendapat sambutan positif. Karang Taruna merasa lebih dihargai dan berperan nyata dalam kemajuan desanya, bukan sekadar organisasi formalitas.

Dalam bidang infrastruktur, Tony bergerak cepat memperbaiki jalan desa yang rusak, memperkuat saluran irigasi untuk pertanian, serta memperhatikan sarana ibadah dan fasilitas umum lainnya. Bagi warga, perubahan ini terasa langsung karena memperlancar mobilitas dan meningkatkan kualitas hidup sehari-hari.

Selain itu, pemerintah desa juga mulai membangun pusat kegiatan masyarakat yang bisa digunakan untuk rapat, pelatihan, hingga kegiatan sosial. Dengan begitu, warga memiliki ruang bersama untuk mempererat kebersamaan.

Tidak berhenti pada pembangunan fisik, Tony juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi. Ia mendorong kelompok tani untuk mengadopsi metode pertanian modern, sekaligus memberi peluang bagi ibu-ibu rumah tangga melalui pelatihan UMKM dan usaha kecil.

Dengan menggandeng Karang Taruna, ia juga mendorong lahirnya usaha kreatif berbasis desa, seperti pengolahan hasil pertanian, usaha kerajinan, hingga digitalisasi pemasaran produk lokal.

Kepercayaan masyarakat semakin menguat karena gaya kepemimpinan Tony yang transparan. Setiap penggunaan dana desa selalu dibuka dalam forum musyawarah, bahkan dipajang di papan informasi desa agar semua warga tahu. Hal ini membuat masyarakat merasa memiliki kontrol langsung terhadap jalannya pembangunan.

“Dengan transparansi, masyarakat bisa ikut mengawasi. Jadi pembangunan benar-benar murni untuk kepentingan warga, bukan untuk kelompok tertentu,” ungkap salah satu perangkat desa.

Selain pembangunan fisik dan ekonomi, Tony juga menaruh perhatian pada aspek sosial dan spiritual. Ia kerap mengadakan kegiatan bersama tokoh agama seperti pengajian, santunan anak yatim, dan kegiatan keagamaan lain yang mempererat persaudaraan warga.

Langkah ini menjaga harmoni sosial, mencegah perpecahan, sekaligus memperkuat nilai gotong royong yang menjadi ciri khas Desa Keras Wetan.

Warga Keras Wetan mengaku puas dengan kepemimpinan H. Tony Riyadi, S.H. Mereka melihat ada semangat baru, keterbukaan, dan kerja nyata yang membuat desa semakin maju.

“Pak Kades selalu turun langsung, tidak hanya memerintah dari kantor. Beliau hadir di lapangan, ikut kerja bakti, bahkan ikut mendengar keluhan kami. Itu yang membuat warga merasa dekat dan percaya,” ungkap salah satu tokoh masyarakat.

Dengan gaya kepemimpinan yang tegas, terbuka, dan melibatkan semua pihak, Desa Keras Wetan diprediksi akan berkembang pesat di masa mendatang. Jika konsistensi ini dijaga, bukan tidak mungkin desa ini akan menjadi model pembangunan partisipatif di Kabupaten Ngawi, bahkan di tingkat Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *