Keluarga Keluhkan Pelayanan IGD Puskesmas Krian, Pasien Anak Dinyatakan DBD di RSUD Sidoarjo Barat

Krian, 31 Oktober 2025 – Kejadian dugaan penolakan pasien kembali terjadi di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Krian. Seorang anak berinisial UK (11) datang bersama ibunya dengan keluhan demam dan pusing yang telah dialami selama lima hari terakhir.
Setibanya di IGD, pasien menjalani pemeriksaan awal dengan hasil suhu tubuh 36,9°C dan tekanan darah 85/90 mmHg. Namun, dokter jaga menyampaikan bahwa pasien hanya mengalami panas biasa dan masih bisa berjalan serta duduk, sehingga tidak memerlukan perawatan inap. Pasien kemudian hanya diberikan obat jalan.
Ibu pasien sempat meminta agar dilakukan pemeriksaan darah, namun pihak dokter menjelaskan bahwa layanan laboratorium hanya buka pada pagi hari. Karena khawatir dengan riwayat penyakit tipus anaknya serta hasil tekanan darah yang rendah, ibu pasien kembali memohon agar anaknya dirawat inap. Permintaan tersebut ditolak dengan alasan bahwa ruang perawatan anak penuh.
Ibu pasien juga sempat meminta agar anaknya dirawat sementara di ruang IGD, tetapi pihak dokter menyampaikan bahwa ruang IGD tidak digunakan untuk rawat inap. Ketika ibu pasien kemudian meminta surat rujukan ke RSUD Sidoarjo Barat, permintaan itu juga tidak dikabulkan karena menurut dokter layanan rujukan hanya dilayani pada pagi hari, dan pihak IGD menyarankan agar pasien mencari fasilitas kesehatan lain.
Akhirnya, ibu pasien memutuskan membawa anaknya langsung ke IGD RSUD Sidoarjo Barat tanpa rujukan dari Puskesmas Krian (faskes pertama). Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Sidoarjo Barat, hasil diagnosa menunjukkan bahwa kondisi pasien berbeda dari diagnosa awal di puskesmas. anak UK dinyatakan positif menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan perbedaan suhu tubuh 39,6°C dan tekanan darah masih di 85/90 mmHg.
Peristiwa ini diharapkan dapat menjadi evaluasi serius bagi pihak Puskesmas Krian untuk meningkatkan mutu layanan, khususnya di unit gawat darurat. Kejadian serupa diharapkan tidak kembali terjadi agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan manusiawi.
